Senin, 01 November 2010

Novel Area X

Seorang sahabat telah memproklamirkan dirinya hiatus melalui postingannya. Meski saya tak bermaksud sama dengan sahabat saya itu, pada kenyataannya kami tak jauh beda. Untuk beberapa lama “hilang” dari peredaran. Sesekali muncul di blog jenengan, persis seperti “penampakan”: tampak sesaat lalu kembali lenyap…
Ah, tapi benar saya tak ingin hiatus. Saya juga benar-benar masih rindu berada di antara jenengan semua. Bahkan saya sedang berusaha untuk terhubung dengan blog saya ini di mana saja. Diam-diam saat ini saya sedang mencari koneksi internet langganan agar bisa nge-net saat di kos-an. Tak cukup lagi rasanya mengandalkan koneksi gratisan. Jenengan bisa kasih saya saran? :)
Back to the title…

Area-X, Hymne Angkasa Raya. Bagi jenengan yang juga bersahabat dengan teman saya ini, mungkin sudah tidak asing dengan judul novel ini. Atau mungkin jenengan juga salah satu yang beruntung seperti saya, mendapat hadiah novel ini dari acaranya jeng Dhila? Kalo iya, selamat ya… :)
Tak selamanya sains berjauhan dengan ilmu bahasa. Setidaknya hal itulah yang dibuktikan melalui novel ini. Banyak yang berpandangan, termasuk saya, bahwa sains dan sastra dua hal yang sulit dipadukan. Dua ilmu ini kadang tampak bertolak belakang, karena konon menurut cerita dua ilmu membutuhkan jenis kecerdasan otak yang berbeda. Yang satu mengandalkan sisi kiri otak kita dan yang lain membutuhkan sisi otak sebaliknya. Alhasil akan sangat jarang ditemukan seseorang yang gemar sains juga pandai dalam sastra.

Namun anggapan itu kali ini dipatahkan oleh Eliza V. handayani, penulis novel Area-X ini. Dengan piawainya dia memadukan pengetahuan tentang ilmu sains (astronomi, UFOlogi dan banyak ilmu rumit lainnya) menjadi sebuah jalinan cerita dengan nilai sastra tinggi.
Tak tanggung-tanggung, novel ini memperoleh apresiasi dari begawan sastra kenamaan di negeri ini. Bapak Taufiq Ismail dan Helvy Tiana Rosa adalah sedikit di antara banyak sastrawan yang meng-apreciate tingginya kualitas novel ini.
Sehebat itukah?
Membaca novel ini tak ubahnya menyaksikan adegan-adegan menegangkan dalam sebuah film fiksi ilmiah. Hal-hal baru bermunculan di benak saya, sama banyaknya dengan pengetahuan baru yang saya dapatkan. Rasa ingin tahu tentang tema yang disajikan seolah meletup-letup di pikiran saya. Tak sabar rasanya ingin segera melahap habis novel ini semenjak dari membaca bab pembukanya.
Meski kadang menggunakan bahasa yang susah dipahami (saya yakin hal ini karena rendahnya kemampuan bahasa saya. Maklum, saya penikmat sastra amatiran dengan bekal pengetahuan yang pas-pasan. He.he.), namun secara keseluruhan jalinan ceritanya tak terlalu sulit dipahami. Cerita yang kadang ditampilkan sepotong-sepotong bak sebuah potongan puzzle, perlahan-lahan menyatu menjadi sebuah gambaran utuh yang tak terduga sebelumnya.
Penasaran dengan cerita di novel ini?
Di sini saya tak akan menceritakannya. Jadi maaf ya… he.he. Bukan karena pelit, tapi karena jeng dhilla sudah pernah menuliskan sinopsisnya di sini. Jenengan bisa baca di sana. Jika masih kurang dan ingin baca cerita selengkapnya, jenengan kudu sabar. Karena sepertinya novel ini sudah tidak tersedia di toko buku besar semacam Gramedia. Bahkan konon untuk menyediakan novel ini sebagai hadiah, jeng dhila harus pesen langsung ke penerbitnya.
Last but not least, saya ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi buat jeng dhila yang baik hati. Thanks for this amazing book…
Judul : Area X
Pengarang : Eliza V. Handayani
Tebal : 368 halaman + xxiv
Harga : Rp 35.000
Cetakan : I, Juli 2003
Penerbit : Dar! MIZANPernahkah terlintas dipikiran kita Indonesia di tahun 2015 seperti apa? Mungkin Indonesia bersimbah dengan teknologi canggih. Teknologi yang dikonsumsi setara dengan teknologi negara “Paman Sam” atau dengan negera “Matahari Terbit”. Waw…. alangkah canggihnya Indonesia di tahun yang akan datang. Komputer memegang kendali. Security rumah hingga datebase seluruh data yang ada pada sebuah instansi pemerintah dapat diakses dengan internet yang online 24 jam.Tak itu saja, jam tangan pun telah dilengkapi dengan fitur online internet. Mutakhirnya yang dipakai oleh remaja Indonesia saat itu setara dengan layanan 3G yang marak di luncurkan oleh provider komunikasi. Fitur yang disuguhkan sangat canggih. Begitu juga dengan mahasiswa tidak perlu lagi membawa buku ataupun modul yang tebal. Cukup bermodalkan laptop semua tugas kuliah jadi aman. Tingginya tingkat konsumsi teknologi di Indonesia tahun 2015, menjadikan para ilmuan over animo untuk menguak misteri ruang angkasa. Sehingga Pemerintah Indonesia saat itu serba komputerisasi itu membangun berbagai gedung untuk kepentingan peneliti.
Tapi tak semua kecanggihan itu disambut hangat oleh masyarakat. Karena pemerintah menyembunyikan rahasia besar. Ada sebuah area yang diberi nama Area X. Melihat hal itu, menggelitik Yudho seorang mahasiswa yang ingin tahu datebase Area X dengan destinasi agar ia mudah mengakses kapanpun ia mau untuk kepentingan pendidikannya. Ditemani Rocky, Yudho nekat menyelinap masuk ke dalam gedung yang dilarang dimasuki oleh masyarakat umum. Akan tetapi perjuangan Yudho dan Rocky harus kandas, mereka tertangkap akan tetapi masih ada kesempatan untuk melarikan diri. Mereka seperti bermain petak umpet dengan para penjaga yang sangar. Mujur tak dapat diraih, Rocky menghembuskan napas terakhirnya di depan mata Yudho sendiri. Berseberangan dengan Yudho, ia berhasil meloloskan diri dari cengkraman security. Yudho harus membayar mahal kematian Rocky dengan padangan sinis dan perlakukan yang kurang mengenakkan dari keluarga Rocky. Kematian Rokcy yang tidak wajar, ada tergores rasa penyesalan dalam diri Yudho. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menggubur rasa ingin tahunya tentang area X.Di sisi lain ada kejadian yang aneh sekaligus menggemparkan menimpa keluarga Ibu Aini. Kali ini kecelakan menimpa putrinya, sehingga menjadi perhatian pers kala itu. Karena peristiwa yang dialami putrinya itu adalah kecelakan yang tidak wajar. Kronologis kecelakaan yang itu, ketika ia pulang larut malam, putrinya melewati jalan pulangan yang dekat dengan area X. Dalam perjalanan putrinya melihat piring terbang yang mirip dengan UFO. Sebelum piring terbang yang mirip dengan UFO itu mendarat, seluruh lampu di sekitarnya hingga radioa yang sedang didengar mati begitu saja. Besi yang mengalami resonansi ‘piring terbang’ itu akan peyot, seperti bekas benturan benda yang sangat keras. Dan yang lebih anehnya lagi, Tyas anak Ibu Aini mengalami luka yang persis seperti kena sayatan sinar laser. Sayatan yang begitu rapi sekali.Kasus Tyas membuat Elly menjadi Hyperanimo. Rasa penasaran yang terus menyesak file-file yang ada di otaknya membuat Elly terus…dan terus mencari sebenarnya apa yang tengah terjadi di TKP yang dekat dengan Area X. Dengan kecanggihan teknologi Elly dan Dr. Hardono yang membantu penyelidikan kasus Tyas, memvisualisasikan kecelakaan yang terjadi dengan komputer mereka. Hebatnya lagi visualisasi itu langsung menyerupai kejadian sebenarnya. Begitu canggih teknologi komputer Indonesia. Investigasi yang dilakukan Elly dengan Dr. Hardono menyisakan rasa penasaran yang menumpuk. Yang ada di benak Elly hanya berjubel pertanyaan seputar Area X. Area X yang dibangun dengan dalih untuk kepentingan rakyat. Seputar Area X yang penuh kontrovesi, memang patut diperbincangkan. Sebenarnya kegiatan apa yang dilakukan oleh para saintis. Masalah penjagaan yang ektra di Area X, terus mengundang tanda tanya bagi publik. Sebenarnya eksperimen apa yang sesungguhnya dilakukan oleh para ilmuan? Tanggung-tanggung pula, para ilmuan yang bekerja di area X umumnya berpendidikan S3 bahkan ada yang telah menjadi profesor.
Elly terus melanjutkan pencarian informasi seputar Area X. Hingga Akhirnya ia bertemu dengan Yudho dan memilih untuk berduet dalam memecehkan misteri Area X. Memang pencarian informasi seputar Area X sedikit membayar rasa penasaran Yodho dan Elly. Dalam perburuan informasi, Elly dihadapkan pada rintangan yang menegangkan. Apalagi sahabatnya Tammy mengalami penyakit yang aneh dan sekujur tubuhya mengalami luka seperti yang dialami Tyas. Serta ia terus dibuntuti oleh orang-orang yang beseragam hitam. Sebenarnya siapakah mereka?
Eliza V. Handayani, penulis yang banjir dengan prestasi menulis, tak setengah-setengah membangun novel ini. Penuh dengan keberanian dan referensi yang dimiliki dan ia kumpulkan dari berbagai media di belahan dunia. Mulai dari majalah, koran yang beresensi UFO hingga ke teori-teori yang relevansi dengan fisika, ufologi dan ruang angkasa.Alur novel ini sungguh menegangkan. Jika terus menelusuri novel Area X ini kita akan mendapatkan jawaban yang menjadi teka-teki seputar area X. Tak terasa saja area X yang tebal ini dapat anda tuntaskan dalam waktu yang singkat. Area X juga konten dengan nilai edukatif yang menstimulus para remaja untuk terus meningkatkan kemampuan akan tenkologi informasi spesifiknya lagi pada komputer. Ini tentunya menjadi cambuk bangsa Indonesia untuk terus mengajarkan teknologi kepada peserta didik agar tidak ketinggalan dari negera lain. Novel ini juga dibumbui dengan bahasa yang sedikit ilmiah, tetapi tidak erat. Ada istilah-istilah yang digunakan penulis yang membantu untuk memahami konflik. Eliza telah menginterpretasikan seperti apa Indonesia nantinya yang bergelimang dengan teknologi yang super canggih. Novel ini sangat bagus dibaca oleh remaja yang suka dengan hal-hal yang berbau ilmiah. Kita akan mendapatkan pesan dari penulis akibat dari penggunaan teknologi tang tanpa kendali lewat novel area X.
Akan tetapi apakah yang sebenarnya terjadi di Area X? Penyakit apa yang menimpa Tammy? Lantas sebenarnya ‘piring terbang’ yang menimbulkan kontroversi benarkah UFO? Lalu bagaimana dengan misteri kematian Rocky? temukan semuanya dalam Area X.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar